Bank Indonesia (BI) terus mendorong adopsi QRIS Tap sebagai metode pembayaran nirsentuh berbasis NFC. Banyak pengguna iPhone pun berharap Apple segera mendukung teknologi ini. Tapi di balik antusiasme tersebut, ada pertanyaan mendasar: apakah QRIS Tap benar-benar teknologi yang layak diperjuangkan?
Secara teknis, QRIS — termasuk varian “Tap”-nya — masih berbasis QR code yang ditransmisikan lewat NFC. Prosesnya tetap memerlukan pembukaan aplikasi, input PIN, lalu menempelkan ponsel dalam jendela waktu 1–2 menit. Mirip seperti barcode di kasir supermarket, hanya saja dikemas lebih modern.
Mengenal GPN Tokenisasi: standar pembayaran global yang sudah terbukti
Tokenisasi adalah teknologi yang digunakan oleh Visa, Mastercard, JCB, dan UnionPay untuk menghadirkan kartu digital di dalam dompet elektronik seperti Apple Pay, Google Wallet, dan Samsung Wallet. Dengan tokenisasi, kartu fisik digantikan oleh token digital yang tersimpan aman di perangkat — tanpa perlu jaringan internet, tanpa PIN, cukup tempelkan ponsel.
Bayangkan seperti memiliki e-money Mandiri, Flazz, atau BRIzzi — tapi tersimpan langsung di ponsel Anda. Teknologi inilah yang seharusnya diterapkan pada GPN (Gerbang Pembayaran Nasional), bukan QRIS Tap.
Perbandingan langsung: QRIS Tap vs GPN Tokenisasi
QRIS Tap
GPN Tokenisasi
Cara pakai
Buka app → input PIN → tap dalam 1–2 menit
Langsung tempelkan ponsel, selesai
Perlu sinyal?
Ya
Tidak (bekerja offline)
Kompatibilitas
Terbatas, perlu negosiasi per platform
Apple Pay, Google Wallet, Samsung Wallet
Risiko keamanan
Rentan relay attack selama sesi aktif
Aman per transaksi, tidak ada sesi terbuka
Risiko keamanan QRIS Tap yang jarang dibahas
Ada celah keamanan serius pada QRIS Tap yang jarang disorot: dalam jeda 1–2 menit setelah PIN dimasukkan, sinyal NFC tetap aktif dan siap menerima transaksi. Celah ini membuka potensi relay attack — di mana pihak ketiga bisa mengintersepsi sinyal dan memicu transaksi tanpa sepengetahuan pengguna.
Karena PIN sudah dimasukkan lebih awal, transaksi sulit disanggah. Ini dikenal sebagai Session Misuse: sesi terbuka yang disalahgunakan di luar kehendak pengguna.
🚪 QRIS Tap: “Buka pintu, lalu pintunya tetap terbuka selama 2 menit” — siapa pun yang lewat bisa masuk.
💳 NFC Tokenisasi (Apple/Google Wallet): “Setiap masuk harus tap kartu sekali, langsung tutup lagi” — aman per transaksi.
Tokenisasi tidak memiliki celah ini — setiap tap adalah transaksi baru yang diotorisasi secara independen oleh perangkat, bukan oleh sesi yang tetap aktif.
Kenapa BI seharusnya fokus ke GPN Tokenisasi?
Alasan terbesar mengapa GPN Tokenisasi lebih masuk akal secara strategis adalah kompatibilitas universal. Jika BI berhasil menetapkan standar tokenisasi GPN, maka semua dompet digital — Apple Pay, Google Wallet, Samsung Wallet — bisa langsung mendukungnya tanpa negosiasi khusus per platform.
Ini jauh lebih efisien dan berdampak lebih luas dibandingkan meminta Apple membuka akses NFC khusus untuk QRIS Tap. Kebanggaan lokal itu penting, tapi kebanggaan yang tepat adalah membangun infrastruktur pembayaran yang setara — bahkan melampaui — standar global.
Apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat?
Literasi teknologi adalah kunci. Ketika publik memahami perbedaan mendasar antara QR-based payment dan tokenisasi, tekanan terhadap regulator pun akan lebih terarah. Bukan sekadar meminta Apple mendukung QRIS Tap — tapi mendorong BI untuk mengadopsi GPN Tokenisasi sebagai standar nasional yang kompatibel dengan ekosistem global.
✅ Dukung GPN Tokenisasi — bukan karena anti-QRIS, tapi karena Indonesia berhak mendapatkan teknologi pembayaran terbaik yang aman, cepat, dan bekerja di semua perangkat.
Sebagai mantan pengguna setia Apple yang sekarang beralih ke Samsung, saya ingin berbagi alasan nyata di balik keputusan ini. Kesimpulan saya: Ekosistem Samsung di Indonesia jauh lebih praktis dan fleksibel. Apple terlalu banyak membatasi fitur, ditambah tidak ada principal resmi di sini – bahkan bayar app di store kena pajak tambahan yang nggak wajar, beda sama Google Play.
Alasan Pindah dari Apple
1. Kualitas Mengecewakan
iPhone Xs saya cacat pabrik. Layarnya rusak persis setiap setahun. Dalam 2 tahun, bolak-balik ke iBox dua kali cuma ganti layar.
2. Ekosistem Tertutup & Mahal
Mau pakai TV biasa? Harus beli Apple TV dulu. Pengen voice assistant? Wajib punya HomePod. Rasanya Apple sengaja bikin penghalang.
3. Ribet Multi-Platform
Airdrop mimpi buruk kalau berurusan dengan Windows. Bandingkan dengan Quick Share Android! Kirim file ke Mac gampang pakai NearDrop atau app sejenis.
4. Gaming? Bukan untuk Mac
Saya aktif main game Steam di Windows. Macbook tidak mendukung, dan pindah data Mac-Windows itu sungguh merepotkan.
Bukti Produk Apple yang digunakan dari tahun 2012! Benar2 FanBoyyyy!!
Perjalanan Menuju Samsung
Sempat coba Huawei P30, hampir masuk ekosistemnya. Tapi kena banned, hilang akses Google. Akhirnya beralih ke S22+ dan perlahan tambah perangkat Samsung lainnya. Ternyata cocok!
Pandangan Saya Soal Isu “Greenline”
Bukan Cuma Masalah Samsung
Semua brand bisa kena. Ini fakta yang sering diabaikan banyak orang.
Populasi vs Keluhan
Pengguna Samsung sangat banyak di Indonesia, wajar keluhan lebih mencolok. Secara persentase? Belum tentu lebih tinggi.
QC Itu “Gacha”
S22+ saya dipakai kasar (dijemur, wireless charging di mobil, jatuh sampai kaca pecah) – layar tetap aman. Anggap 3% unit gagal, 3% dari jutaan pasti jumlahnya besar.
Jangan Asal Nyalahin, Coba Dulu!
Saya tidak anti-Apple. Masih pakai iPad Pro (chip M1 kencang) dan MacBook Pro kantor. Pesan saya: Jangan ikut-ikutan nyalahin Samsung soal greenline kalau belum alami sendiri! Kalau cuma baca postingan trus ikut “ngegas”, yaudah… wkwk.
Intinya: Semua Bisa Bermasalah
Baik greenline di Samsung atau layar matot di iPhone kayak pengalaman saya, semua perangkat punya potensi cacat. Jangan gampang dipengaruhi opini random. Mau tau brand bagus atau tidak? Beli, coba, rasakan sendiri. Baru bilang kapok atau loyal.
Masa Depan? Terbuka!
Sisa perangkat Apple di tahun 2025. iPad Pro, iP Xr, AirPods 2.
Suatu hari, saat pensiun gaming atau amit-amit S24 Ultra kena greenline, mungkin cari ekosistem lain, atau… siapa tau balik ke Apple? Waktu yang jawab.
Pernah alami hal serupa? Share pengalamanmu di komentar!
Karena sebuah diskusi di facebook group, saya jadi coba buka library lama saya dan menemukan beberapa screenshot iPhone 4s saya jaman dahulu.. Oh boy, ketika homescreen iPhone masih menggunakan gaya skeuomorphism, dimana icon didesain menyerupai bentuk aslinya.
Menurut saya jaman ini adalah jaman dengan desain yang paling unik, karena bukan hanya ditahap membiasakan orang orang menggunakan teknologi smartphone sehingga icon icon masih didesain mirip bentuk aslinya sehingga para pengguna tidak bingung karena sudah biasa melihat bentuk objek tersebut.
Misalnya gambar Contacts adalah sebuah buku yang biasa digunakan menyimpan nomor handphone. Notes menggunakan icon sebuah catatan yang bisa dirobek dan lainnya…
Bagaiaman menurut kalian? Apakah desain skeuomorphism yang jadul ini masih menarik? Kalau dari saya pribadi sih ingin kembali ke desain yang lebih memiliki visual depth, tidak flat dan minimalist seperti sekarang.
Sebagai ex UIUX mari kita bahas sedikit tentang skeumorphism:
Kelebihan:
Membuat UI lebih mudah dipahami karena mengandalkan asosiasi dengan benda nyata.
Memberikan kesan estetis dan nostalgia.
Kekurangan:
Desainnya cenderung rumit dan membutuhkan lebih banyak sumber daya (misalnya grafis berat).
Tidak selalu sesuai dengan tren modern yang mengutamakan minimalis dan flat design.
Ya memang tidak bisa dipungkiri skeuomorphism mulai digantikan ke flat design, pada iOS 7 saja Apple sudah bergeser ke Flat design.. pada jamannya memang terlihat baru dan segar, namun setelah bertahun tahun hingga sekarang ini tidak ada perubaha desain yang major maka ketika kembali ke masa skeuomorphism meberikan rasa nostalgia yang begitu kuat dan jika dilihat kembali skeuomorphism itu memiliki estetika yang lebih bermakna dibandingkan dengan flat design atau material design jaman sekarang.
Jadi? menurut kalian desain mana yang kalian sukai? Flat design/ minimalistic atau skeuomorphism yang lebih kompleks?